‘Dyscalculia’ mengacu pada kesulitan ketika
mengerjakan perhitungan matematika. Ketika hubungannya dengan bahasa, digunaka
istilah ‘Dyslexia’ atau juga ‘Dysgraphia’. Pada intinya, ‘Dyscalculia’ adalah
ketidakmampuan searing anak dalam menyerap konsep aritmatika. Aturan yang
digunakan untuk pendidikan khusus diskalkulia beragam dari negara ke negara.
Pada awal penilaiannya, siswa akan mengalami kesulitan yang terlihat signifikan
dalam aritmatika, lalu baru dapat ditegakkan diagnosisnya dengan melalui
serangkain tes, sebelum pada akhirnya akan diberikan pengajaran khusus. Namun
sayangnya, siswa dengan gejala diskalkulia ini suit di diagnosis terutama
mereka yang bersekolah di sekolah-sekolah Negri, dikarenakan lemahnya stander
pengukuran kerangka kerjadan kriteria
Mengapa sebagian orang memiliki
kelemahan diskalkulia ?
Sebagian besar, orang yang mengalami
diskalkulia atau kesulitan dalam Matematika mempunyai kesulitan dalam proses
visual. Pada beberapa kasus, pada bagian pemrosesan dan pengurutan, matematika
memerlukan seperangkat prosedur yang harus diikuti dalam pol a yang urut, hal
ini juga berkaitan dengan kurangnya memory (memory deficits). Mereka
yang mengalami kesulitan mengingat benda-benda/angka, akan mengalami kesulitan
mengingat urutan operasi (order of operations) yang harus diikuti
atau langkah-langkah pengurutan tertentu yang harus diambil untuk memecahkan
soal-soal matematika. Yang terakhir, kesulitan matematika juga seringkali
berhubungan dengan phobia matematika. Hal ini berkaitan dengan batang otak dari
sistem ‘belief ‘ seseorang yang mengatakan bahwa ‘says tidal bias matematika’.
Hal ini dapat terjadi karen a pengalaman masa lalu yang negatif ataupun karena
kurangnya rasa percaya diri ketika berhadapan dengan soal matematika. Kita
semua tau bahwa sikap yang positif akan mengarah pada performa yang lebih baik.
Apa yang harus dilakukan ?
- Perbanyak contoh-contoh konkrit untuk memastikan pemahaman yang kuat sebelum melangkah kepada konsep yang abstrak. Hal ini akan membantu untuk memberikan strategi untuk memvisualisasikan konsep. Ketika mengerjakan soal cerita, berikan kesempatan kepada anak untuk membayangakan situasi kehidupan sehari-hari atau alat yang membantunya memvisualisasikan sebuah bentuk, konsep, atau pola.
- Berikan kesempatan untuk menggunakan gam bar, grafik, kalimat, atau kartu untuk membantu dalam hal pemahaman soal. Hubungkan permasalahannya dengan contoh kehidupan sehari-hari.
- Kembangkan sebuah konsep diri bahwa ‘says bias’, sesering mungkin. JANGAN katakan, “Ibu/Ayah tidak pandai matematika, tak heran kamu pun begitu”. Ingatlah, dengan suasana yang baik, (tutoring, one to one support) dan sikap yang positif, semua orang pintar matematika !
- Gunakan pendekatan yang positif untuk mengenalkan konsep dasar. Kartu atau permainan komputer untuk menguasai konsep awal sampai dengan 20 dan tabel perkalian akan sang at berguna. 10 menit sehari akan berhasil.
- Berikan bantuan dalam mempelajari simbol-simbol matematika dan bahasa matematika. Contohnya, pikirkan tenting simbol ‘-’ (minus) berarti ‘pergi’ atau ‘hilang’, dan simbol ‘+’ berarti ‘datang’ atau ‘muncul’.Simbol ‘-’ bisa juga berarti ‘mengurangi’, bisa juga pecahan, atau juga bilangan bulat negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar