BAB I
PENDAHULUAN
Psikologi Kognitif merupakan salah satu cabang
dari psikologi umum yang mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan
mental/psikis yang berkaitan dengan cara manusia berfikir, seperti dalam
memperoleh pengetahuan, mengolah kesan yang masuk melalui penginderaan,
menghadapi masalah/problem untuk mencari suatu penyelesaian, serta menggali
dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi
tunututan hidup sehari-hari.
Cabang ilmu psikologi ini khusus mempelajari
gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan terkait dengan proses belajar
mengajar di sekolah, yang memiliki hubungan erat dengan psikologi belajar,
psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Pengetahuan dan pemahaman
tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam
proses balajar, tetapi juga membantu untuk mencegah terjadinya penyimpangan
dalam prose situ dan sekali terjadi kesalahan selama periode belajar, untuk
mengoreksinya.
Kehidupan mental/psikis
mencakup gejala-gejala kognitif, efektif, konatif sampai pada taraf psikomotis,
baik dalam berhadapan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.
Gejala-gejala mental /psikis ini dapat dibedakan dengan yang lain dan dijadikan
objek studi ilmiah sendiri-sendiri, tetapi tidak pernah dapat dipisahkan secara
total yang satu dari yang lainnya. Oleh karena itu, psikologi kognitif tidak
hanya menggali dasar-dasar dari gejala yang khas kornitif, tetapi juga meninjau
aspek kognitif dalam gejala mental yang lain, seperti apa penafsiran dan
pertimbangan yang menyertai reaksi perasaan (afektif) dan keputusan kehendak
(konatif). Siswa disekolah berperasaan sambil belajar dan berkehendak serta
bermotivasi sambil belajar, dapat diselidiki dengan cara bagaimana berfikir
dalam berbagai wujudnya ikut megnambil bagian dalam berperasaan dan berkehendak.
Namun, dalam bagian ini tekanan diberikan pada analisis tentang cara berfikir
itu sendiri karena perilaku internal inilah yang paling mendasar dalam belajar
disekolah.
Seiring dengan berkembangnya psikologi kognitif,
maka berkembang pula cara-cara mengevaluasi pencapaian hasil belajar, terutama
untuk domain kognitif. Salah satu perkembangan yang menarik ádalah revisi
“Taksonomi Bloom“ tentang dimensi kognitif. Anderson & Krathwohl (dalam
wowo 1999) merevisi taksonomi Bloom tentang aspek kognitif menjadi dua dimensi,
yaitu: proses kognitif dan pengetahuan. Dimensi pengetahuan berisi empat
kategori, yaitu Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif,
Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat, Pemahaman,
Penerapan, Analisis, Evaluasi dan Membuat. Kesinambungan yang
mendasari dimensi proses kognitif diasumsikan sebagai kompleksitas dalam
kognitif, yaitu pemahaman dipercaya lebih kompleks lagi daripada mengingat,
penerapan dipercaya lebih kompleks lagi daripada pemahaman, dan seterusnya.
Pengetahuan (Knowledge) / C1
Pengetahuan (C1) menekankan pada poses mental
dalam mengingat dan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah siswa
peroleh secara tepat sesuai dengan apa yang telah mereka peroleh sebelumnya.
Informasi-informasi yang dimaksud di sini berkaitan dengan simbol-simbol
matematika, terminologi dan peristilahan, fakta-fakta, keterampilan dan
prinsip-prinsip.
Pemahaman (Comprehension)/C2
Pemahaman (C2) adalah tingkatan yang paling
rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti
tentang sesuatu. Dalam tingkatan ini, siswa diharapakn mampu memahami ide-ide
matematika bila mereka dapat menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa
perlu menghubungkannya denga ide-ide lain degan gejala implikasinya.
Penerapan (Aplication)/C3
Penerapan (C3) adalah kemampuan kognisi yang
mengharapkan siswa mampu mendemonstrasiaknpemahaman mereka berkenaan denga
sebuah abstraksi matemaika melalui pengunaannya secara tepat ketika mereka
diminta untuk menunjukkan kemampuan tersebut, seorang siswa harus dapat memilih
dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasi
yang ada dihadapannya.
Analisis (Analysis)/C4
Analisis (C4) adalah kemapuan untuk memilah
sebuah struktur informasi ke dalam komponen-komponen sedemikian hingga hierarki
dan keterkaitan antar ide dalam informasi tersebut menjadi tampak dan
jelas. Bloom mengidentifikasikan 3 jenis analisis, yaitu: (i) analisis
elemen/bagian; (ii) analisis hubungan; dan (iii) analisis prinsip-prinsip
pengorganisasian. Bila pemahaman(C2) menekankan pada penguasaan atau pengertian
akan arti materi matematika, sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada
penguasaan dan pemamfaatan infomasi-informasi yang sesuai, berkaitan dan
bermamfaat. Analisis(C4) berkaitan dengan pelmilahan materi ke dalam
bagian-bagian, menemukan hubungan antarbagian, fan mengamati pengorganisasian
bagian-bagian.
Sistesis (Syntesis)/C5
Sistesis (C5) adalah kemampuan untuk
mengkombinasikan elemen-elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau
sistem. Dalam matematika, sistesis melibatkan pengkombinasian dan
pengorganisasian konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika untuk
mengkreasikannya menjadi struktur amtematika yang lain dan berbeda dari ayng
sebelumnya. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema-teorema
matematika dan mengembangkan struktur matematika.
Evaluasi( Evaluation)/C6
Evaluasi (C6) adalah kegiatan mambuat penialaian
(judgement) berkenaan dengan nilai sebuah ide, kreasi, cara atau metode.
Evaluasi adalah tipe yang tertinggi diantara ranah-ranah kognitif yang lain
karena melibatkan ranah yang lainnya, mulai dari pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis hingga sintesis. Evaluasi dapat memandu seseorang uintuk mendapat
pengetahuan baru, pemahaman yang lebih baik, penerapan baru, dan cara baru yang
unik dalam analisis atau sintesis, misalnya bloom menjadi kegiatan evalusi ke
dalam 2 tipe yaitu: (i) penilaian pada bukti atau struktur internal, seperti
akurasi, logika dan konsistensi, dan (ii) Penilaian pada bukti atau struktur
eksternal, seperti teorema-teorema matematika dan sistemnya.
Bruner sebagai ahli teori belajar psikologi
kognitif memandang proses belajar itu sebagai tiga proses yang berlangsung
secara serampak, yaitu (1) proses perolehan informasi baru, (2) proses
transformasi pengetahuan, dan (3) proses pengecekan ketepatan dan memadainya
pengetahuan tersebut. Informasi dapat merupakan penyempurnaan pengetahuan
terdahulu atau semacam kekuatan yang berpengaruh kepada pengetahuan terdahulu
seseorang.
Dalam transformasi pengetahuan, orang menggunakan
pengetahuan untuk menyesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Jadi transformasi
memungkinkan menggunakan informasi diluar jangkauan informasi itu dengan cara
eksplorasi (membuat estimasi berdasarkan informasi tersebut) atau dengan
interpolasi (untuk menggunakan informasi) atau mengubah informasi ke dalam
bentuk lain (Hadis,
2006).
Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif
seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulasi
yang dihadapi. Perkembangan itu ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan
aspek-aspek lingkungan sebagai makanan.
Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan
perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar
mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar
kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para
guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik
sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat
berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar psikologi
kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada
setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik
telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah,
maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang
dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.
Oleh karena itu, peran ahli teori belajar
psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang
mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif
yang dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi
masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan
belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.
Pengetahuan tentang kognitif peserta didik perllu
dikaji secara mendalam oleh para calon guru dan para guru demi untuk
menyukseskan proses pembelajaran di kelas. Tanpa pengetahuan tentang kognitif
peserta didik guru akan mengalami kesulitan dalam membelajarkan peserta didik
di kelas yang pada akhirnya mempengaruhi rendahnya kualitas proses pendidikan
yang dilakukan oleh guru di kelas melalui proses belajar mengajar antara guru
dengan peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
Objek-objek Pembelajaran Matematika
Menurut Gagne, secara garis besar ada 2 macam
objek yang dipelajari siswa dalam matematika, yaitu objek-objek langsung
(direct objects) dan objek-objek tak langsung (indirect objects).
Objek-objek langsung
a
Fakta (abstrak) berupa konvensi-konvensi(kesepakatan)
dalam matematika unutk memperlancar pembicaraan-pembicaraan dalam matematika,
seperti lambang-lambang. Di dalam matematika, fakta merupakan sesuatu yang
harus diterima, tanpa pembuktian karena merupakan kesepakatan. Sebagai contoh
Simbol bilangan “3” sudah dipahami sebagai bilangan “tiga”. Jika disajikan
angka “3” orang sudah dengan sendirinya menangkap maksudnya yaitu “tiga”.
Sebaliknya kalau seseorang mengucapakan kata “tiga” dengan sendirinya dapat
disimbolkan dengan “3”.
b Konsep
adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan
sekumpulan objek, apakah objek tertentu merupakan contoh konsep atau bukan.
Suatu konsep yang berada dalam lingkup matematika disebut sebagai onsep
matematika. “segitiga” adalah nama suatu konsep abstrak. Dengan konsep itu
sekumpulan objek dapat digolongkan sebagai contoh atau bukan contoh. Konsep
berhubungan erat dengan definisi. Definisi adalah ungkapan yang membatasi suatu
konsep. Dengan adanya definisi ini orang dapat membuat ilustrasi atau gambar
atau lambang dari konsep yang didefinisikan. Sehingga menjadi semakin jelas apa
yang dimaksud dengan konsep tertentu. Konsep trapesium misalnya bila
dikemukakan dalam definisi “trapesium adalah segiempat yang tepat
sepasang sisinya sejajar” akan menjadi jelas maksudnya. Konsep trapesium
dapat juga dikemukakan dengan definisi lain, misalnya “segiempat yang terjadi
jika sebuah segitiga dipotong oleh sebuah garis yang sejajar salah satu sisinya
adalah trapesium. Kedua definisi trapesium memiliki isi kata atau makna
kata yang berbeda, tetapi mempunyai jangkauan yang sama.
c
Operasi/keterampilan matematika adalah operasi-operasi dan
prosedur-prosedur dalam matematika yang merupakan suatu proses untuk mfencari
suatu hasil tertentu. Sebagai contoh misalnya “penjumlahan”, “perkalian”,
“gabungan”, “irisan dan sebagainya.
d Prinsip
(abstrak) adalah objek matematika yang komplek. Prinsip adalah suatu
pernyataan bernilai benar, yang memuat dua konsep atau lebih dan menyatakan
hubungan antara konsep-konsep tersebut. Sebagai contoh hasil kali dua
bilangan p dan q sama dengan nol jika dan hanya jika p=0 dan
q=0. ( p.q = 0 Û p = 0 atau q = 0).
Objek-objek tak langsung dari
pembelajaran matematika meliputi kemampuan berfikir logis, kemampuan memecahkan
masalah, kemampuan berfikir analitis, sikap positif terhadap matematika,
ketelitian, ketekunan, kedisiplinan dan hal –hal lain yang secara implisit akan
dipelajari jika siswa mempelajari matematika.
Pengetahuan dalam kajian filsafat
Menurut Burhanuddin Salam (Amsal, 2007),
mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada empat, yaitu:
- Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan istilah common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu merah karaena memang itu merah, benda itu panas karena memang dirasakan panas dan sebagainya. Dengan common sense, semua orang sampai pada kenyakinan secara umum tentang sesuatu, di mana mereka akan berpendapat sama semuanya.
- Pengetahuan ilmu, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistemasikan common sense, atau suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dari kehidupan sehari-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif (objekctive thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperolehnya melalui observasi, eksprimen, klasifikasi. Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsure pribadi, pemikiran logika diutamakan, netral, dalam arti tidak dipegaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian (subyektif), karena dimulai dari fakta. Ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif. Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.
- Pengetahuan filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali.
- Pengetahuan Agama, yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan Agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk Agama. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan, yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama manusia, yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal. Pengetahuan Agama yang lebih penting di samping informasi tentang Tuhan, juga informasi tentang Hari Akhir. Iman pada Hari Akhir merupakan ajaran pokok Agama sekaligus merupakan ajaran yang membuat manusia optimis akan masa depannya.
Dimensi Pengetahuan
Pemahaman pembelajaran saat ini memfokuskan
pada proses aktif, kognitif dan konstruktif yang tergabung dalam pembelajaran
yang berarti. Siswa dalam hal ini berperan sebagai individu yang aktif dalam
setiap Pembelajarannya; mereka dapat memilih informasi yang dibangun oleh
pengertian mereka sendiri dari informasi yang dipilih tersebut. Siswa bukan
penerima yang pasif, merekam informasi yang didapat dari orang tuanya, guru,
buku teks ataupun media saja. Hal ini merupakan perubahan dari pandangan pasif
dalam belajar kognitif dan perspektif konstruktif yang menekankan pada
bagaimana siswa mengetahui (pengetahuan) dan bagaimana mereka berpikir (proses
kognitif) mengenai apa yang mereka ketahui selama siswa melakukan pembelajaran
yang berarti.
Mengingat banyaknya tipe-tipe pengetahuan,
khususnya dalam pengembangan psikologi kognitif, maka secara umum dapat
diklasifikasikan ke dalam empat tipe pengetahuan umum, yaitu Faktual,
Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif.
Pengetahuan Faktual
Pengetahuan faktual meliputi elemen-elemen dasar
yang digunakan oleh para ahli dalam mengkomunikasikan disiplin akademik,
pemahaman, dan penyusunan dimensi pengetahuan secara sistematis. Elemen-elemen
ini biasanya digunakan oleh orang-orang yang bekerja pada disiplin ilmu
tertentu yang membutuhkan perubahan dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
Pengetahuan faktual berisi elemen-elemen dasar
yang harus siswa ketahui ketika mereka harus mencapai atau menyelesaikan suatu
masalah. Elemen-elemen ini biasanya dalam bentuk simbol-simbol yang digabungkan
dalam beberapa referensi nyata atau ‘rangkaian simbol’ yang membawa informasi
penting. Pengetahuan faktual (factual knowledge) yang meliputi aspek-aspek
Pengetahuan Istilah
Pengetahuan istilah meliputi pengetahuan khusus
label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal (contohnya kata-kata,
bilangan-bilangan, tanda-tanda, gambar-gambar). Setiap materi berisi sejumlah
label-label atau simbol-simbol verbal dan non verbal yang memiliki referensi
khusus.
Contohnya :
- Pengetahuan tentang alfabet.
- Pengetahuan tentang syarat-syarat keilmuan.
- Pengetahuan tentang kosakata melukis.
- Pengetahuan tentang akunting.
- Pengetahuan tentang simbol-simbol dalam peta dan bagan.
- Pengetahuan tentang simbol-simbol yang digunakan untuk mengindikasikan pengucapan kata-kata yang tepat.
Pengetahuan Khusus dan Elemen-Elemennya
Pengetahuan khusus dan elemen-elemennya berkenaan
dengan pengetahuan tentang peristiwa, lokasi, orang, tanggal, sumber informasi,
dan sebagainya. Pengetahuan khusus ini juga meliputi informasi yang spesifik
dan tepat, contohnya saja tanggal yang benar dari suatu kejadian atau fenomena
dan perkiraan informasi, seperti periode waktu suatu peristiwa atau fenomena
yang terjadi.
Contohnya:
- Pengetahuan tentang fakta-fakta mengenai kebudayaan dan sosial.
- Pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting dalam bidang kesehatan, kewarganegaraan, kebutuhan manusia dan ketertarikannya.
- Pengetahuan nama-nama penting, tempat, dan peristiwa dalam berita.
- Pengetahuan reputasi penulis dalam mempersembahkan bukti-bukti terhadap masalah pemerintah.
Pengetahuan Konseptual
Pengetahuan konseptual meliputi pengetahuan
kategori dan klasifikasi serta hubungannya dengan dan diantara mereke-lebih
rumit, dalam bentuk pengetahuan yang tersusun. Seperti, skema, model mental,
atau teori implisit atau eksplisit dalam model psikologi kognitif yang berbeda.
Semua itu dipersembahkan dalam pengetahuan individual mengenai bagaimana materi
khusus di susun dan distrukturisasikan, bagaimana bagian-bagian yang berbeda
atau informasi yang sedikit itu saling berhubungan dalam arti yang lebih
sistematik, dan bagaimana bagian-bagian ini saling berfungsi. Contohnya, rotasi
bumi, matahari, rotasi bumi mengelilingi matahari.
Pengetahuan Klasifikasi dan Kategori
Pengetahuan klsifikasi dan kategori meliputi
kategori-kategori, divisi-divisi dan penyusunan yang digunakan dalam materi
yang berbeda. Pengetahuan ini secara umum merefleksikan bagaimana para ahli
berpikir dan menyelesaikan masalah mereka, dimana pengetahuan khusus menjadi
penting dari masalah yang telah diselesaikan. Pengetahuan adalah sebuah aspek
penting dalam mengembangkan sebuah disiplin akademik.
Contohnya :
- Pengetahuan macam-macam tipe literatur.
- Pengetahuan macam-macam bentuk kepemilikan usaha.
- Pengetahuan bagian-bagian kalimat (kata benda, kata kerja, kata sifat)
- Pengetahuan macam-macam masalah psikologi yang berbeda.
- Pengetahuan periode waktu yang berbeda.
Pengetahuan Dasar dan Umum
Pengetahuan dasar dan umum meliputi abstraksi
nyata yang menyimpulkan fenomena penelitian. Abstraksi ini memiliki nilai yang
sangat besar dalam menggambarkan, memprediksikan, menjelaskan atau menentukan
tindakan yang paling tepat dan relevan atau arah yang harus diambil.
Contohnya :
- Pengetahuan generalisasi utama tentang kebudayaan khusus.
- Pengetahuan hukum-hukum fisika dasar.
- Pengetahuan dasar-dasar kimia yang relevan dalam proses kebudayaan dan kesehatan.
- Pengetahuan prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran.
Pengetahuan Teori, Model dan Struktur
Pengetahuan teori, model dan struktur meliputi
pengetahuan dasar dan generalisasi dengan hubungan timbal balik yang jelas,
pandangan yang sistematis dalam sebuah fenomena yang rumit, masalah, atau
materi. Pengetahuan ini merupakan formula yang abstrak.
Contohnya:
- Pengetahuan hubungan timbal balik antara prinsip kimia sebagai dasar untuk teori kimia.
- Pengetahuan struktur kongres secara keseluruhan (organisasi, fungsi)
- Pengetahuan evolusi.
- Pengetahuan teori tektonik.
- Pengetahuan model genetika (DNA).
Pengetahuan Prosedural
Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan
bagaimana melakukan sesuatu. Seperti pengetahuan keterampilan, algoritma,
teknik-teknik, dan metoda-metoda yang secara keseluruhan dikenal sebagai
prosedur. Ataupun dapat digambarkan sebagai rangkaian langkah-langkah.
Pengetahuan Keterampilan Umum-Khusus dan
Algoritma
Pengetahuan algoritma digunakan dengan latihan
matematika. Prosedur perkalian dalam aritmetika, ketika diterapkan, hasil
umumnya adalah jawaban yang sulit karena adanya kesalahan dalam penghitungan.
Walaupun hal ini dikerjakan dalam pengetahuan prosedural, hasil dari
pengetahuan prosedural ini seringkali menjadi pengetahuan faktual atau
konseptual.
Algoritma untuk penjumlahan seluruh bilangan yang
sering kita gunakan untuk menambahkan 2 dan 2 adalah pengetahuan prosedural,
jawabannya 4 semudah pengetahuan faktual. Sekali lagi, penekanan disini adalah
berdasarkan pada pemahaman siswa dalam memahami dan menyelesaikannya sendiri.
Contohnya :
- Pengetahuan keterampilan dalam melukis menggunakan cat air.
- Pengetahuan ketrampilan yang digunakan dalam mengartikan kata yang didasarkan pada analisa struktur
- Pengetahuan keterampilan macam-macam algoritma untuk menyelesaikan persamaan kuadrat
Pengetahuan Metode dan Teknik Khusus
Pengetahuan metoda dan teknik khusus meliputi
pengetahuan yang sangat luas dari hasil konsensus, persetujuan, atau
norma-norma disiplin daripada pengetahuan yang secara langsung lebih menjadi
sebuah hasil observasi, eksperimen, atau penemuan.
Contohnya :
- Pengetahuan metoda penelitian yang relevan untuk ilmu sosial.
- Pengetahuan teknik-teknik yang digunakan oleh ilmuwan dalam mencari penyelesaian masalah.
- Pengetahuan metoda-metoda untuk mengevaluasi konsep kesehatan.
- Pengetahuan macam-macam metoda literatur.
Pengetahuan Kriteria Untuk Menentukan
Penggunaan Prosedur yang Tepat
- Pengetahuan kriteria untuk menentukan beberapa tipe essay untuk ditulis (ekspositori, persuasif).
- Pengetahuan kriteria untuk menentukan metoda yang digunakan dalam menyelesaikan persamaan aljabar.
- Pengetahuan kriteria untuk menentukan prosedur statistik untuk menggunakan data yang terkumpul dalam eksperimen.
- Pengetahuan kriteri untuk menentukan teknik-teknik dalam menerapkan dan membuat pengaruh dalam melukis menggunakan cat air.
Pengetahuan Metakognitif
Metakognitif ialah kesedaran tentang apa yang
diketahui dan apa yang tidak diketahui. Strategi Metakognitif merujuk kepada
cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berfikir dan pembelajaran
yang berlaku. Apabila kesedaran ini wujud, seseorang dapat mengawal fikirannya
dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajari. Jadi Pengetahuan
metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum maupun pengetahuan
mengenai salah satu pengertian itu sendiri
Pengetahuan Strategi
Pengetahuan strategi adalah pengetahuan strategi
umum untuk mempelajari, memikirkan dan menyelesaikan masalah. Contohnya:
- Pengetahuan informasi ulangan untuk menyimpan informasi.
- Pengetahuan perluasan strategi seperti menguraikan dengan kata-kata sendiri dan kesimpulan.
- Pengetahuan macam-macam strategi organisasi dan perencanaan.
Pengetahuan Mengenai Tugas-tugas
Kognitif, termasuk Pengetahuan Kontekstual dan Kondisional
Pengetahuan ini meliputi pengetahuan yang
membedakan tugas-tugas kognitif yang tingkat kesulitannya sedikit ataupun
banyak, bisa saja membuat sistem kognitif ataupun strategi kognitif.
Contohnya :
- Pengetahuan mengingat kembali tugas-tugas (contoh, jawaban singkat) yang dibuat secara umum dalam sistem memori individu yang dibandingkan dengan pengenalan tugas-tugas (contoh, pilihan berganda).
- Pengetahuan buku sumber yang sulit untuk dipahami dibandingkan dengan buku biasa atau buku teks umum.
- Pengetahuan tugas memori sederhana (contoh, mengingat nomor telepon).
Pengetahuan Itu Sendiri
Pengetahuan ini meliputi kekuatan dan kelemahan
dalam hubungannya dengan pengertian dan pembelajaran. Contohnya, siswa yang
mengetahui tes itu lebih mudah yang bentuknya pilihan berganda dibandingkan
dengan bentuk essey, karena memiliki pengetahuan sendiri dalam memilih
keterampilan penilaian.
Cara Seseorang Memperoleh Pengetahuan Dan
Implikasinya Pada Pembelajaran Matematika
Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan
sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan”
(Slameto, 1991:2). Definisi ini menyiratkan dua makna. Pertama,
bahwa belajar merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu yaitu untuk
mendapatkan perubahan tingkah laku. Kedua,
perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara
sadar. Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila setelah melakukan
kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu
perubahan. Misalnya, ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah,
keterampilannya meningkat, sikapnya semakin positif, dan sebagainya. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa perubahan tingkah laku tanpa usaha dan tanpa
disadari bukanlah belajar.
Bagaimanakah terjadinya proses belajar sehingga
seseorang memperoleh pengetahuan? Terjadinya proses belajar sebagai upaya untuk
memperoleh hasil belajar sesungguhnya sulit untuk diamati karena ia berlangsung
di dalam mental. Namun demikian, kita dapat mengidentifikasi dari kegiatan yang
dilakukannya selama belajar. Sehubungan dengan hal ini, para ahli psikologi
cenderung untuk mengguna-kan pola tingkah laku manusia sebagai suatu model yang
menjadi prinsip-prinsip belajar.
Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan
Psikologi Behavioristik
Thorndike, salah seorang penganut paham psikologi
behavior (dalam Orton, 1991:39; Resnick, 1981:12), menyatakan bahwa belajar merupakan
peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang
disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus
tersebut. Selanjutnya, Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara
stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law
of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon sering
terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hukum
ini adalah semakin sering suatu pengetahuan –yang telah terbentuk akibat
terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon— dilatih (digunakan), maka
asosiasi tersebut akan semakin kuat; (2) Hukum akibat (law of effect),
yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh
suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti
(idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu
stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan
asosiasi akan diperkuat.
Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu
Skinner, berpendapat hampir senada dengan hukum akibat dari Thorndike. Ia
mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan
(reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui
ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi
penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif.
Penguatan positif sebagai stimulus, apabila representasinya mengiringi suatu
tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah
laku itu. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang
dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell,
1981:151).
Menurut Gagne (dalam Hudojo, 1990:32), bahwa
setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Tahap
pertama pemahaman, setelah seseorang yang belajar diberi stimulus, maka ia
berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode
(secara mental). Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang
diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). Pengetahuan yang diperoleh
dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat, yaitu pada tahap ketiga
(tahap pengingatan). Terakhir adalah tahap keempat, yaitu pengungkapan kembali
pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga.
Berdasarkan pandangan psikologi behavior di atas,
dapat disimpulkan bahwa pengetahuan seseorang itu diperoleh
karena adanya asosiasi (ikatan) yang
manunggal antara stimulus dan respon.
Pemerolehan Pengetahuan Menurut Pandangan
Psikologi Gestaltik
Berpikir sebagai fenomena dalam cara manusia
belajar, diakui oleh para ahli psikologi gestalt sebagai sesuatu yang penting.
Menurut Kohler (dalam Orton, 1991:89) berpikir bukan hanya proses pengkaitan
antara stimulus dan respon, tetapi lebih dari itu yaitu sebagai pengenalan
sensasi atau masalah secara keseluruhan yang terorganisir menurut prinsip
tertentu. Katona, seorang ahli psikologi gestalt yang lain, juga tidak sependapat
dengan belajar dengan pengkaitan stimulus dan respon. Berdasarkan hasil
penelitiannya ia membuktikan bahwa belajar bukan hanya mengingat sekumpulan
prosedur, melainkan juga menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur
baru menjadi lebih sederhana (Resnick & Ford, 1981:143-144).
Esensi dari teori psikologi gestalt adalah bahwa
pikiran (mind) adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi
dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir
berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang
terpisah-pisah (Orton, 1990:89). Jadi, menurut pandangan psikologi gestalt
dapat disimpulkan bahwa seseorang memperoleh pengetahuan melalui sensasi atau
informasi dengan melihat strukturnya secara menyeluruh kemudian menyusunnya
kembali dalam struktur yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.
Pemerolehan Pengetahuan menurut Pandangan
Konstruktivistik
Menurut Piaget pikiran manusia mempunyai struktur
yang disebut skema atau skemata (jamak) yang sering disebut dengan struktur
kognitif. Dengan menggunakan skemata itu seseorang mengadaptasi dan
mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skemata yang baru, yaitu
melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Selanjutnya, Piaget (dalam Bell, 1981: Stiff dkk., 1993)
berpendapat bahwa skemata yang terbentuk melalui proses asimilasi dan
akomodasi itulah yang disebut pengetahuan. Asimilasi
merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan informasi
(persepsi, konsep, dsb) atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif
(skemata) yang sudah dimiliki seseorang. Akomodasi adalah proses
restrukturisasi skemata yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan
pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skemata
tersebut.
Pengikut aliran konstruktivisme personal yang
lain adalah Bruner. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget
tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan
berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Salah satu teori belajar Bruner yang
mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Teori ini menyatakan
bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip
dalam matematika adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang
dipelajari itu. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell,
1981:143).
Implementasi Pandangan Gestaltik terhadap
Pemerolehan Pengetahuan dalam Pembelajaran Matematika
Menurut pandangan penganut psikologi gestalt,
persepsi manusia tidak hanya sebagai kumpulan stimulus yang berpengaruh
langsung terhadap pikiran. Pikiran manusia menginterpretasikan semua
sensasi/informasi. Sensasi/informasi yang masuk dalam pikiran seseorang selalu
dipandang memiliki prinsip pengorganisasian/struktur tertentu. Artinya,
pengenalan terhadap suatu sensasi tidak secara langsung menghasilkan suatu
pengetahuan, tetapi terlebih dahulu menghasilkan pemahaman terhadap struktur
sensasi tersebut. Pemahaman terhadap struktur sensasi atau masalah itu akan
memunculkan pengorganisasian kembali struktur sensasi itu ke dalam konteks yang
baru dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami atau dipecahkan.
Kemudian, akan terbentuk suatu pengetahuan baru.
Implementasi Pandangan Konstruktivistik
terhadap Pemerolehan Pengetahuan dalam Pendekatan Matematika
Berdasarkan pandangan konsruktivistik tentang
bagaimana pengetahuan diperoleh atau dibentuk, belajar merupakan proses aktif
dari pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Proses aktif yang dimaksud tidak
hanya bersifat secara mental tetapi juga keaktifan secara fisik. Artinya,
melalui aktivitas secara fisik pengetahuan siswa secara aktif dibangun
berdasarkan proses asimilasi pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan
pengetahuan (skemata) yang telah dimiliki pebelajar dan ini berlangsung secara
mental. Dengan demikian, hakikat dari pembelajaran matematika adalah membangun
pengetahuan matematika.
Sebagai implikasi dari hakikat belajar matematika
itu maka proses pembelajaran matematika merupakan pembentukan lingkungan
belajar yang dapat membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-prinsip
matematika berdasarkan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi
(Nickson dalam Grows, 1992:106). Menurut Hudojo (1998:7-8) ciri-ciri pembelajaran
dalam pandangan konstrukstivisme adalah sebagai berikut.
(1) Menyediakan pengalaman belajar dengan
mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga
belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
(2) Menyediakan berbagai alternatif pengalaman
belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat
diselesaikan dengan berbagai cara.
(3) Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi
yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk
memahami suatu konsep matematika melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
(4) Mengintegrasikan pembelajaran sehingga
memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja
sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi
dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
(5) Memanfaatkan berbagai media termasuk
komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
(6) Melibatkan siswa secara emosional dan sosial
sehingga matematika menjadi menarik dan siswa mau belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar